Berburu Dan Berpolitik PDF Cetak Surel
Senin, 19 Juli 2010 01:13

Dua kata pada judul tulisan ini sebenarnya memiliki arti  berbeda, tetapi seringkali dipersamakan. Berburu adalah kegiatan untuk menangkap binatang buruan, yang biasanya dilakukan di hutan. Umumnya berburu tidak sendirian, dilakukan bersama-sama dan bahkan juga kalau perlu, menggunakan anjing. Itulah sebabnya ada sebutan anjing buruan, artinya anjing yang dimanfaatkan khusus untuk berburu.

 

Berbeda dengan berburu adalah berpolitik. Jika berburu yang ditangkap adalah binatang, maka dalam berpolitik yang diatangkap adalah kekuasaan. Oleh karena itu, sementara ahli mengartikan politik adalah kegiatan untuk mendapatkan, mempertahankan,  dan memanfaatkan kekuasaan. Secara teoritik, kekuasaan biasanya digunakan sebagai sarana untuk mensejahterakan rakyat. Namun arti itu kadang dalam pelaksanannya,  bisa saja berubah, yaitu bukan lagi untuk mensejahterakan rakyat, melainkan untuk  kepentinan diri sendiri, keluarga atau kelompok politiknya itu.

 

Tatkala berburu, yang biasanya melibatkan beberapa orang,  ----- termasuk anjing buruannya itu, jika berhasil, maka hasilnya akan dibagi-bagi kepada semua dari mereka yang terlibat itu. Pembagian itu mesti dilakukan secara merata dan adil, kecuali untuk anjingnya. Anjing yang diajak berburu biasanya diberi  bagian yang tidak disukai oleh orang, misalnya bagian perut atau bahkan tulangnya saja.

 

Soal bagi membagi hasil buruan  tidak banyak melahirkan masalah. Jika  terjadi pembagian yang tidak adil, maka pihak-pihak yang merasa dikhianati akan memisahkan diri dari kelompok itu atau kemudian bergabung dengan kelompok lain, dan bahkan bisa jadi,  membuat kelompok tersendiri. Pembagian yang tidak adil dari hasil buruan tidak terlalu banyak melahirkan masalah, karena berburu bukan semata-mata mencari daging buruan, melainkan ada saja sementara orang yang menjadikan kegiatan itu sebagai penyaluran kesenangan atau hoby belaka.

 

Rupanya pada kenyataannya, berpolitik pun kadang juga serupa dengan berburu. Setelah menang sehingga mendapatkan kekuasaan, maka siapa saja yang terlibat akan mendapatkan bagian secara merata. Jika kekusaan itu sudah didapat, katakanlah menjadi bupati, wali kota, gubernur, atau apa saja, maka pihak-pihak yang merasa terlibat atau ikut andil memenangkan pemilihan, akan meminta  bagiannya. Pembagian itu bermacam-macam, bisa berupa jabatan, kedudukan, atau proyek-proyek yang mendatangkan keuntungan.

 

Jika hal itu benar-benar terjadi,  maka pejabat yang berhasil menduduki jabatan itu tidak selalu berkuasa sepenuhnya.  Ia harus membagi-bagi kekuasaan yang diperolehnya, tidak terkecuali,  proyek-proyek yang mendatangkan keuntungan itu. Padahal selain itu, ia  juga dituntut  harus memenuhi janjinya meningkatkan kesejahteraan rakyat.   Keadaan yang demikian menjadikan pejabat tidak  bisa obyektif lagi. Orang-orang yang telah terlibat dan juga pengusaha yang selama itu telah memberi andil,  harus mendapatkan sesuatu.

 

Gambaran seperti ini menjadikan berpolitik mirip dengan berburu. Kedua-duanya sama-sama dituntut untuk melakukan pembagian hasil buruannya, baik hasil binatang buruan, ataupun  hasil-hasil kekuasaan yang diperolehnya. Padahal semestinya, antara berburu dan berpolitik harus dibedakan secara tegas. Berburu hanya sebatas mendapatkan hewan buruan, tetapi berpolitik selalu memiliki misi yang lebih mulia, yaitu mensejahterakan rakyat.

 

Membagi-bagi hasil buruan boleh-boleh saja, karena memang merupakan hasil kerja bersama. Akan tetapi berpolitik  semestinya tidak boleh dilakukan sebagaimana berburu. Misalnya, setelah menang dan mendapatkan kekuasaan, lalu  hanya bagi-bagi kekuasaan dan proyek untuk kepentingan pribadi atau golongan tertentu saja. Berpolitik seharusnya tetap diposisikan secara terhormat, yaitu  sebagai upaya  mensejahterakan rakyat,  dan tidak  diorientasikan selainnya itu. Apalagi, hanya  diserupakan dengan berburu. Wallahu a’lam.

Share Link: Share Link: Google Yahoo MyWeb Facebook Myspace Ask

Comments

avatar fatoni
0
 
 
sama dengan berebut jadi BEM-U D kampus uin malang, mrka mau jadi itu bukan untuk klmpok mrka saja, tpi mhasiswa,,,terutama maba...mkanya kaos n al-mamater uin d perindah dwong,,,biar sejajar ma kampusnya yang indah...masak bagednya 20rb, mau beli apa?
Name *
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
Batal
Name *
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
 

   

Gabung diFacebook


Tamu Berkunjung Sekarang

Kami punya 6 tamu online

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini40
mod_vvisit_counterKemarin272
mod_vvisit_counterMinggu ini588
mod_vvisit_counterBulan ini1676
mod_vvisit_counterKeseluruhan51410